Kamis, 08 April 2010

Saran untuk para tukang cukur

Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya usul agar para pengusaha salon / pangkas rambut mewajibkan tukang cukur / hair dresser menggunakan headphone penutup telinga. Hal ini untuk menghindari gerakan tiba-tiba dari tukang cukur yang disebabkan oleh KAGET / TERKEJUT, entah karena dikagetin teman atau ada suara yang mengagetkan.

Profesi ini menggunakan senjata tajam seperti silet dan gunting, cukup berbahaya apabila petugasnya kagetan atau latah. Atau waktu mencuci rambut , kalau petugas kaget maka air / shampoo bisa masuk mata (kelilipan).

Selain tukang cukur bisa lebih santai dan rileks karena sambil dengerin musik, tampilannya bisa jadi lebih cool. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah jangan menggunakan musik yang terlalu keras di headphone, karena biasanya waktu berbicara suaranya bisa jadi sangat keras. Bisa-bisa yang lagi dicukur terkaget-kaget.

Selasa, 29 September 2009

Menunggu di traffic light

Beberapa waktu ini saya melihat ada kecenderungan baru dari para pengendara motor ketika sedang menunggu di traffic light. Saya melihat beberapa motor berjajar beberapa meter dari lintasan penyebrangan, bahkan ada yang mengambil jarak cukup jauh. Ternyata perilaku ini muncul akibat sengatan sinar matahari yang cukup panas di siang hari sehingga para pengendara mencari tempat berteduh untuk menunggu traffic light.
Para pengendara tidak lagi berjajar di depan, tapi berpencar agar bisa berteduh. Nah, saya berpikir alangkah baiknya jika sekitar traffic light dibangun semacam cannopy yang panjangnya sekitar 10 meteran jadi para pengendara tidak lagi kepanasan di siang hari. Cannopy besar ini bisa jadi akan melahirkan peluang bisnis baru disekitar area tersebut. Mungkin iklan, mungkin layanan khusus bagi pengendara (semacam refershing singkat) sehingga dapat mengurangi angka kecelakaan di jalan.
Ide ini baru terlintas, saya baru sebatas brainstorming saja, mungkin anda punya pengembangan ide yang lebih bagus?

Sabtu, 18 April 2009

Kota impian saya

Saya membayangkan sebuah kota yang rindang, banyak taman, sejuk, dan dengan blok-blok bangunan yang teratur di Indonesia ini. Sebuah kota yang bernuansa village, tapi dengan konten modern dan canggih. Sebuah kemodernan yang tersirat meskipun tak tampak wah.
Dan saya juga merindukan sebuah kota yang full music, sebuah kota yang diisi oleh seniman-seniman berkualitas di setiap sudut jalannya. Memperdengarkan lagu-lagu yang harmonis dan meningkatkan produktifitas.
Kota yang dipenuhi oleh pemikir-pemikir dan eksekutor-eksekutor dari ide-ide. Sebuah kota yang action, sebuah kota yang punya misi dan visi.
Di kota ini, tidak ada kelelahan pikiran yang disebabkan konflik, karena masing-masing orang sudah dewasa dan berintegritas, sehingga masalah-masalah bisa diselesaikan tanpa banyak masalah.
Kota seperti ini akan menghasilkan sebuah energi yang akan mengalir ke daerah-daerah sekitarnya.
Kalau tulisan ini diteruskan, akan sangat panjang sekali, dan saya akan menjadi lelah ketika saya keluar dari kantor dan melihat kondisi yang sesungguhnya.

Rabu, 11 Februari 2009

English Corner.....Why.....?

Saya baru saja selesai mengoperatori sebuah acara English Corner di sebuah radio swasta di kota saya, sambil melihat bagaimana interaksi antara pengasuh acara tersebut dengan bintang tamu maupun pendengar, saya mendapatkan suatu jawaban mengapa Bahasa Inggris susah sekali dikuasai oleh kebanyakan orang Indonesia.

Corner.....! Corner itu kan sudut ya...pojok...
Sadar tidak kalau selama ini English selalu hanya berada di corner, tidak pernah di center....
Dianggap penting...karena semua orang mengatakan bahwa itu bahasa yang penting dan harus dikuasai untuk bisa maju, tetapi karena yang penting ini ditaruh di corner...akhirnya menjadi penting di prioritas yang bukan utama.

Bagaimana memposisikan English sebagai bahasa yang bisa dipakai dan dipelajari tanpa harus takut dan menganggapnya terlalu tinggi?

Kamis, 18 Desember 2008

Ide harus dicatat secepatnya

Ternyata benar , sebuah ide harus segera dicatat secepatnya ketika melintas di pikiran kita. kalau tidak , maka akan menguap dalam beberapa jam , dan selanjutnya susah sekali diakses.
Seperti tadi pagi ketika sedang di jalan , terlintas sebuah ide bagus yang rencananya mau saya tulis di blog ini, dan saat ini ketika sudah mau menulis tiba-tiba saya sudah tidak ingat lagi tentang topik yang akan saya kemukakan. Sudah coba cari clue dari berbagai sudut , tetap tidak mau nongol , seakan-akan terkubur di lapisan memori paling bawah.

Tapi ada hikmahnya juga , kebiasaan bawa pulpen dan notebook kecil (belum punya PDA) yang sudah lama saya tinggalkan kini kembali saya lakukan. Saya siap menangkap ide apapun yang melintas , menulisnya secepatnya , merenungkannya , kalau oke , bisa jadi tulisan di blog ini.

Catat....catattt...dan cataaattt....

Minggu, 28 September 2008

5 Prinsip orang Singapura

Kemarin saya dapat kiriman E-mail yang isinya cukup menarik untuk disharingkan. Artikel tersebut menginformasikan tentang 5 prinsip dasar kesederhanaan hidup yang dimiliki oleh orang Singapura :
  1. One wife
  2. Two children
  3. Three bedrooms
  4. Fourwheels
  5. Five thousand dollar a month (at least)
Lihat kesederhanaan prisip ini, orang Singapura berkomitmen untuk punya hanya 1 istri, 2 anak saja, 1 buah mobil, tinggal di rumah/apartemen tidak perlu besar cukup 3 kamar, tapi punya penghasilan minimal $50.000 sebulan atau sekitar 50.000.000 sebulan!!! What a wonderful life!


Selasa, 16 September 2008

Sinetron Indonesia

Berikut ini adalah adegan yang sering muncul di sinetron Indonesia akhir-akhir ini dan sepertinya menjadi wajib ada.
  1. Tokoh yang sangat baik (biasanya cantik/ganteng, miskin, teraniaya dan sial terus sampe episode terakhir)
  2. Tokoh yang sangat jahat ( bisa cantik/ganteng juga tapi matanya tajam dan suka diputar-putar atau diarahkan ke kiri atau ke kanan sambil tersenyum sinis, ini menandakan bahwa tokoh ini sedang menemukan ide brillian super jahat)
  3. Tokoh yang baik biasanya suka menangis, dan matanya suka bergetar-getar redup sambil berkaca-kaca.
  4. Adegan pertemuan antara tokoh cowok dan cewek, biasanya kalo di kampus atau sekolah tabrakan sampe bukunya tercecer, terus berpandangan dengan mata terheran-heran sayu.
  5. Kalo ketemunya di jalan maka biasanya tersrempet atau hampir tertabrak mobil tokoh cowok atau tokoh cewek, dan pasti mereka buang waktu untuk berpandangan beberapa saat walaupun kondisi lalu lintas lagi rame.
  6. Ada adegan penculikan.
  7. Ada adegan amnesia/ lupa ingatan setelah si tokoh hilang beberapa waktu.
  8. Biasanya si tokoh jahat sadar setelah tabrakan atau sakit mau meninggal.
  9. Akhir-akhir ini tokoh baik selalu miskin dan disukai oleh tokoh yang kaya tapi dimusihin sama tokoh lain yang kaya juga.
  10. Setelah episode 20 biasanya ceritanya mulai berantakan, kalo ada tokoh yang bintangnya mungkin mengundurkan diri maka ada adegan operasi plastik.
Kalo ada sinetron yang pakemnya di luar ciri-ciri ini saya akan nonton sinetron lagi.

Dunia tanpa sekolah 4

Belajar kapan saja

Munculnya kesadaran belajar, akan membuat belajar sebagi sebuah kegiatan yang mengasyikkan, karena bisa dilakukan tanpa beban. Kecenderungan anak sekolah menjadi malas belajar adalah karena ada garis tajam antara JAM BELAJAR dan JAM BERMAIN, akibatnya terjadi perbedaan persepsi yang menekan ketika JAM BELAJAR datang.
Jam belajar adalah jam ketika mereka harus duduk diam, memandangi buku, bergerak sedikit sudah ada suara SSSSSSTTTT.....
Akhirnya apa yang terjadi? Mereka menunggu jam belajar selesai! Mereka tidak sedang belajar di JAM BELAJAR.
Di dunia yang saya impikan adalah ketika waktu belajar tidak lagi didefinisikan dan ditentukan sebagai waktu belajar. Tetapi semuanya berjalan alamiah. Bukan saja anak-anak, tetapi orang dewasa juga mengalami hal yang sama, mereka terus belajar kapan saja, memperoleh pengetahuan baru, keahlian baru dsb. Sehingga kaum yang tidak sekolah formilpun akan mendapat sebutan terpelajar, dan tidak ada lagi dikotomi terpelajar dan tidak terpelajar.

BELAJAR DARI SIAPA SAJA

Di atas sudah saya kemukakan bahwa belajar tidak harus dikonotasikan dengan jam belajar khusus, tetapi sebagai sebuah kegiatan yang alamiah. Pertanyaannya dari mana memndapatkan nara sumber untuk belajar?
Jawabnya sederhana, dari siapa saja. Jika kita ingin ahli dalam bidang penataan rambut, kita bisa datang ke sebuah salon, berkenalan dan kita bisa magang tanpa dibayar di tempat tersebut. (Tentunya hal ini mungkin ketika kesadaran belajar sudah ada di setiap orang dan sudah ada sosialisasi tetang program belajar cara baru ini.)
Sambil magang di tempat tersebut kita bisa belajar bagaimana teknik menata rambut, sekaligus mencoba praktek. selanjutnya....

Adanya sebuah lembaga yang mengakreditasi dan sertifikasi hasil suatu kegiatan belajar!!!

Di sini hal yang memungkinkan sebuah dunia tanpa sekolah bisa berjalan. Peran pemerintah!!! ya.. karena sebuah dunia tanpa sekolah menjadi ideal ketika ada sebuah lembaga yang secara resmi mengakreditasi sebuah hasil belajar.
Prakteknya adalah sebagai berikut. Misal saya belajar tentang internet dari seorang pakar internet marketing, saya belajar dari apa yang dia tulis, saya belajar juga dari sumber-sumber lain, sehingga seiring berjalannya waktu keahlian saya berkembang setara dengan S2 bidang marketing misalnya. Nah....siapa yang bisa memberikan pengakuan atas hasil belajar ini? saya tidak mungkin membuat ijazah sendiri, stempel sendiri dan memwisuda diri sendiri dan menyatakan bahwa saya setara dengan S2 bidang marketing. Ini bisa gila dan mengacaukan sistem.

Nah seandainya ada lembaga resmi yang diselenggarakan atau disahkan oleh pemerintah untuk mengakreditasi setiap hasil belajar dari seseorang maka saya akan mungkin untuk mendapatkan pengakuan secara formil akademik. Jadi saya tinggal mendaftarkan diri, mengajukan permintaan untuk diuji sesuai keahlian dan pengetahuan saya, dan hasil dari ujian tersebut saya akan diberikan strata atas hasil penilaian dari tim ini. Misal ternyata hasil belajar saya selama 2 tahun belum bisa disetarakan dengan S2 , tetapi baru bisa setingkat diploma atau D3. Nah...bukankah ini menyelesaikan masalah bagi mereka yang tidak punya kesempatan unutk kuliah di unversitas?

Setiap orang, siapapapun, kapanpun, dari latar belakang apapun, kondisi ekonomi bagaimanapun akan bisa mendapatkan pengakuan secara formal atas hasil belajarnya.
Hal ini sangat mungkin terjadi, dan semoga brainstorming ini bisa diakses oleh seseorang yang mampu untuk membuatnya menjadi kenyataan

Sekian.....

Selasa, 19 Agustus 2008

GERAKAN ANTI PERMEN

Beberapa waktu yang lalu, saya baca sebuah artikel yang judulnya "Jangan remehkan uang receh" intinya penulis artikel tersebut menyarankan untuk tidak menghamburkan uang receh (koin) tapi mengumpulkannya dan kemudian ditabung di bank setelah jumlahnya banyak. sesuai saran adalah jangan beli pake uang receh, tapi pakai uang 1000,5000,atau 10000 dan kalau ada kembalian receh dikumpulkan. Nah...ide ini bagus juga karena kalau dihitung-hitung jumlahnya bisa banyak juga, kadang-kadang karena nilainya kecil kita jadi tidak terlalu menghargainya. saya mulai melakukan hal ini dan yahhh lumayan bisa menabung juga....

Tetapi beberapa waktu ini saya jadi terganggu dan agak emosi dengan munculnya mata uang baru berupa PERMEN entah itu di toko kelontong sampai supermarket yang canggih. Selalu saja ada mata uang permen sebagai kembalian. Kalau dulu mungkin karena kembalinya 100 rupiah dikasih permen saya masih maklum, tapi akhir-akhir ini makin gila....500,700,800...dikasih permen!!! Saya pikir-pikir lama-lama bisa diabetes orang-orang di Indonesia kalau begini terus. Karena jengkel saya kumpulkan uang tersebut dan kira-kira ada 20 permen....berarti 2000 rupiah kan....saya kebetulan mau beli sabun....nah saya kasih tuh permen ke toko kelontong yang menggunakan mata uang permen tersebut. Apa akibatnya? terjadi gontok-gontokan dan perdebatan yang mengakibatkan saya mungkin diblacklist dari daftar tamu toko tersebut. Kok ngga logis ya...dia kasih kembalian pake permen seenaknya...ada orang beli pake permen malah marah ...ini benar-benar pembodohan.

Saya mengajak kepada semua blogger Indonesia untuk mengadakan gerakan anti permen dengan menolak kembalian dengan mata uang PERMEN, kembalikan kejayaan celengan!!! Kembalikan keindahanbunyi kricik-kricik logam di celengan kita!!! Kalau masih diberlakukan maka harus ada arus timbal balik yaitu para pedagang harus mau menerima pembelian dengan mata uang permen juga.

Bangsa yang maju salah satunya karena rakyatnya suka menabung, kita baru belajar menabung sudah terganjal dengan permen ......Semoga departemen Perdagangan dan Departemen keuangan bisa memperhatikan hal kecil yang dampaknya juga bisa besar ini.
Hidup celengan.....hidup kricik-kricik.....

Senin, 18 Agustus 2008

Sampah dan bukan sampah

Suatu saat saya melihat setumpuk sampah di depan rumah, berserakan dan sama sekali tidak berguna...satu-satunya jalan harus dibuang...saya melihatnya diangkut truk sampah dan selanjutnya tidak memikirkannya lagi.
Pikiran saya tentang sampah terbangkit kembali siang harinya, ketika seorang teman datang membawa sebuah buku dan berkata "buku ini isinya hanya sampah", selanjutnya ketika sedang chating, teman chatting saya nulis begini "banyak e-book yang ditulis tapi sebagian besar isinya juga sampah". Nah saya mulai mikir-mikir....apa sih yang disebut sampah itu....(hehehe soalnya hobbyku mikir). Saya mulai baca buku yang kata teman isinya hanya sampah....hmmm...tentang motivasi.....dan saya membacanya perlahan....hmmm memang hal-hal yang sudah umum....dan tiba-tiba ada satu bab yang isinya sama dengan pergumulan hidup yang saya alami....dan ting....!!! saya seperti menemukan lampu di tengah gelap. Dan saya berkata...buku begini kok dikatakan sampah....
Apa kesimpulannya? sesuatu dikatakan sampah ketika sesuatu itu tidak berguna bagi seseorang, bahkan sampah yang dibuang di toko-toko masih berguna bagi pemulung, berguna bagi pebisnis sampah, berguna bagi pemilik perusahaan daur ulang, berguna bagi perajin yang membutuhkan bahan-bahan untuk kerajinannya.
Sejak hari itu saya mempunyai paradigma yang berbeda terhadap sampah. Saya selalu membuang sampah PADA TEMPATNYA!!! karena ketika sampah berada "pada tempatnya" dia akan berguna. Ok selamat membuang sampah PADA TEMPATNYA